Aksi Damai “Cabut Anggaran Polisi” di Taman Apsari Surabaya, Suarakan Kritik dan Keadilan

0
306
sumber foto: dokumentasi pribadi

SURABAYA – Seruan untuk memangkas anggaran kepolisian melalui aksi damai berjudul  “Cabut Anggaran Polisi” digelar pada Minggu (15/12/2024) di Taman Apsari, Surabaya. Puluhan peserta aksi dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, individu, komunitas, hingga komunitas musik kolektif, berkumpul dengan satu tujuan, yakni menyampaikan keresahan terkait kekerasan aparat kepolisian yang masih terus terjadi serta harapan pencabutan anggaran polisi. Aksi ini diinisiasi oleh Bara Api (Barisan Rakyat Anti Penindasan) sebagai wujud kepedulian dan respons atas maraknya kasus kekerasan oleh aparat yang hingga kini belum terselesaikan secara adil.

Dalam aksi tersebut, peserta menyoroti 645 kasus kekerasan dan 13 kematian yang melibatkan anggota Polri. Salah satu momen yang menyentuh adalah ketika kisah bocah bernama Gamma, seorang korban kekerasan aparat, disuarakan sebagai simbol keprihatinan. Puisi berjudul “Nak Polisi, Bapak Memaafkanmu” turut dibacakan, mengundang refleksi mendalam tentang kemanusiaan dan harapan akan perubahan.

Pepe, salah satu penyelenggara aksi, mengungkapkan alasan di balik diselenggarakannya kegiatan ini. “Kekerasan yang dilakukan polisi terus berulang, tetapi mekanisme hukum untuk mengadili mereka yang bersalah belum ada yang serius. Polisi bisa melakukan kekerasan karena mereka mendapat senjata dari anggaran pajak rakyat. Sayangnya, anggaran tersebut tidak transparan, malah semakin meningkat dan dipakai untuk hal-hal yang represif,” jelas Pepe. Dalam aksi ini, kode 1312 dipasang sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang terus dibiarkan.

Sorotan utama dalam aksi ini adalah tuntutan untuk mencabut anggaran kepolisian. Peserta menilai bahwa anggaran kedua terbesar di kementerian ini tidak krusial sehingga harus dihapuskan. Anggaran yang seharusnya dipergunakan untuk menghapus kekerasan  justru berpotensi menambah kasus kekerasan dari aparat kepolisian. Mereka menyerukan agar masyarakat lebih kritis dan berhenti menormalisasi tindakan represif aparat.

Konsep dari aksi ini berbeda dengan aksi-aksi konvensional lainnya, massa aksi tidak membawa atribut organisasi yang terkesan menonjolkan identitas kelompok dan berpotensi mengaburkan perhatian dari tuntutan utama aksi. “Kami gak pakai atribut apa-apa, gak bawa bendera organisasi. Ini kritik kami. Biasanya, aksi malah jadi ajang pamer organisasi dan tuntutan jadi gak kelihatan. Jadi, di sini kami langsung bawa kode aja sekalian,” tambah Pepe.

Dengan mengusung slogan “Resist is Fun, Resist and Chill”,  aksi ini digelar dengan cara yang lebih santai, tetapi tetap serius dalam menyampaikan pesan. Peserta  menyampaikan kritik dan tuntutan melalui orasi, musik, dan pertunjukan seni, menciptakan suasana aksi yang menyenangkan dan tidak monoton. 

Rizky, salah satu peserta aksi, menyatakan bahwa keikutsertaannya didasari oleh nurani. “Polisi sering salah menggunakan kekuasaan, terutama terhadap mahasiswa, buruh, petani, dan masyarakat kecil lainnya. Kekerasan ini sudah di luar batas kemanusiaan, sementara hukum sering kali tidak berpihak pada korban. Harapan kami sederhana, yakni hukum harus berlaku adil, equality before the law. Polisi tidak boleh semena-mena,” ujarnya tegas.

Aksi yang baru pertama kali dilakukan ini diharapkan mampu menggugah kesadaran masyarakat untuk bersuara bersama, menghentikan kekerasan, dan membangun sistem yang lebih adil dan berpihak pada kemanusiaan.

Pewarta: Siti Nor Shofiyah, Devina Eka Salsabilla

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here